Lakukan Tes Hepatitis C Apabila Memiliki Gejala Ini

Tertular virus hepatitis C (HCV) dapat membuat Anda menderita penyakit hepatitis C, yang mana merupakan sebuah penyakit menular yang membuat hati meradang. Hepatitis C dapat bersifat akut (jangka pendek), terjadi selama beberapa minggu hingga 6 bulan, dan kronis (jangka panjang). Penyakit hepatitis C kronis dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat diobati serta kanker hati. Hepatitis C menyebar lewat kontak langsung dengan darah yang terinfeksi. Anda perlu melakukan tes hepatitis C apabila Anda pernah bertukar jarum suntik (penggunaan tattoo dan obat-obatan terlarang), tersuntik jarum secara tidak sengaja di rumah sakit bagi petugas kesehatan, berbagi pisau cukur dan sikat gigi, serta melakukan hubungan seks dengan orang yang menderita hepatitis C. Ibu hamil yang menderita hepatitis C juga dapat menularkan virus tersebut ke bayi.

Gejala hepatitis C

Di Amerika Serikat sendiri, ada sekitar 4 juta orang yang menderita hepatitis C, dengan 80 persen di antaranya tidak menunjukkan gejala apapun pada tahap awal penyakit ini berkembang. Akan tetapi, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), hepatitis C dapat berubah menjadi sebuah kondisi yang kronis pada 75 hingga 85 persen orang-orang yang terpapar virus ini. Beberapa gejala hepatitis akut di antaranya adalah demam, pusing, hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, dan rasa sakit pada perut. Anda perlu melakukan tes hepatitis C apabila Anda menderita gejala-gejala tersebut. Sementara itu, hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis dan memiliki gejala-gejala seperti:

  • Penyakit kuning

Penyakit kuning adalah sebuah kondisi ketika kulit dan bagian putih mata berubah warna menjadi kuning. Hal ini terjadi ketika terlalu banyak bilirubin (pigmen kuning) di dalam darah. Bilirubin adalah produk sampingan dari sel darah merah yang dipecah. Biasanya, bilirubin dipecah di hati untuk kemudian di keluarkan dari tubuh lewat kotoran. Akan tetapi, ketika rusak, hati tidak dapat memproses bilirubin dengan benar, untuk kemudian menumpuk di saluran darah dan menyebabkan kulit dan mata menjadi menguning.

  • Spider angioma

Kondisi ini menunjukkan pembuluh darah yang berbentuk seperti laba-laba di bawah permukaan kulit. Spider angioma diasosiakan dengan meningkatkan kadar estrogen. Kondisi ini dapat terlihat pada orang-orang yang sehat, terutama anak-anak, dan pada mereka yang menderita hepatitis C. Pada penderita hepatitis C, saat hati rusak, kadar estrogen pun akan ikut naik. Spider angioma umumnya akan muncul pada wajah di dekat tulang pipi, tangan, telapak tangan, telinga, dan dinding dada atas. Spider angioma biasanya akan hilang saat kondisi Anda semakin membaik. Apabila spider angioma muncul, lakukan tes hepatitis C untuk memastikan apakah Anda menderita hepatitis C atau tidak.

  • Asites

Asites merupakan penumpukan cairan berlebih di perut yang membuat perut terlihat membengkak seperti balon. Asites merupakan gejala hepatitis C yang muncul penderita penyakit hati stadium lanjut. Saat hati terluka, fungsi hati akan berkurang, menyebabkan penumpukan tekanan di pembuluh darah. Tekanan berlebih ini disebut dengan istilah hipertensi portal dan dapat menyebabkan cairan menumpuk di perut.

Hepatitis C kronis jarang menunjukkan gejala pada tahap awal perkembangannya. Kondisi ini dapat disembuhkan apabila didiagnosa sejak dini dan dirawat secepatnya. Karena itulah tes hepatitis C perlu dilakukan apabila Anda menderita gejala-gejala tersebut di atas. Setelah mendapatkan perawatan, dokter akan memeriksa darah Anda setelah beberapa bulan untuk memastikan apakah virus tersebut telah hilang.

Read More

Sarkoidosis dan Penyakit Lain yang Membuat Batuk Berkepanjangan

Sebagai salah satu organ vital di dalam tubuh manusia, paru-paru wajib terjaga kesehatannya. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa paru-paru mudah mengalami gangguan kesehatan. Ada banyak penyakit yang bisa menyerang paru-paru dan salah satu dampaknya adalah membuat penderitanya mengalami batuk berkepanjangan. Salah satunya adalah sarkoidosis.

Kendati demikian, sarkoidosis merupakan satu dari sekian banyak kemungkinan dan cenderung jarang terjadi, jika dibandingkan dengan tuberkolosis, misalnya. Akan tetapi hampir sebagian besar penyakit yang menyerang paru berasal dari infeksi virus atau bakteri, layaknya TB dan sarkoidosis.

Namun, tak menutup kemungkinan faktor-faktor lain juga dapat menyerang dan merusak paru-paru sehingga seorang penderitanya harus mengalami gejala atau keluhan batuk yang berkepanjangan. Berikut ini kemungkinan penyakit yang bisa menyebabkan batuk berkepanjangan:

  • Cystic Fibrosis

Penyakit bawaan ini ditandai oleh lendir yang lengket dan abnormal. Lendir itu mencegah organ-organ seperti paru-paru dan pankreas bekerja dengan benar. Lendir menyumbat saluran pernapasan dan akhirnya mendorong pertumbuhan bakteri sehingga menyebabkan infeksi, kerusakan paru-paru yang luas, dan akhirnya gagal pernapasan.

Atelektasis

Atelektasis terjadi ketika satu atau lebih area paru-paru Anda kolaps atau tidak mengembang dengan baik. Sama seperti penyakit sebelumnya, atelektasis ini bisa disebabkan oleh akumulasi lendir di saluran udara. Batuk merupakan respons alami tubuh untuk melegakan saluran pernapasan tersebut.

  • Kanker Paru-Paru

Kanker adalah penyakit yang dapat menyerang organ tubuh mana saja, termasuk paru-paru. Gaya hidup yang kurang sehat merupakan faktor risiko terbesar dalam perkembangan sel kanker. Khusus kanker paru-paru, rokok digadang-gadang menjadi biang keladinya. Namun, kenyataannya orang yang tidak merokok pun bisa berisiko.

Batuk dapat menjadi tanda kanker paru-paru lantaran disebabkan oleh penonjolan tumor intrabronkial. Jika batuk tak kunjunng mereda setelah berlangsung lebih dari 3 minggu ada baiknya Anda harus pergi ke dokter. Pada stadium lanjut penderita cenderung batuk darah, yang merupakan indikator mendesak bahwa Anda harus mendapatkan perhatian medis.

  • Sarkoidosis

Sarkoidosis adalah penyakit radang yang menyerang banyak organ dalam tubuh, termasuk paru-paru. Ketika sarkoidosis mempengaruhi paru-paru (juga disebut fibrosis paru), peradangan dapat melukai jaringan paru-paru dan menyebabkan berkurangnya kadar oksigen. Batuk kering yang menetap, dan sulit bernapas adalah tanda-tanda potensial penyakit ini.

Sarkoidosis dapat terjadi lantaran respons berlebihan dari sistem imun tubuh terhadap benda asing (kemungkinan besar yang dihirup dari udara) ataupun infeksi dan menyebabkan terbentuknya banyak granuloma, sehingga dapat memengaruhi struktur dan fungsi organ tubuh. Jika kondisi ini dibiarkan menahun, maka dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut (fibrosis) permanen pada jaringan organ tubuh.

  • Sindrom Gangguan Pernapasan Akut (SARS)

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan virus menular dan terkadang fatal. Gejalanya mirip dengan gejala penyakit pernapasan lainnya seperti flu dan pneumonia.

Penyakit ini ditransfer ketika seseorang batuk, dan batuk kronis yang menetap mungkin merupakan tanda dari SARS. Penyakit ini berasal dari keluarga coronavirus, virus yang belakangan kembali lagi dengan jenis barunya dan menyebabkan pandemi Covid-19.

***

Untuk menjaga kesehatan paru-paru dari serangan berbagai penyakit di atas, termasuk sarkoidosis, seseorang dianjurkan senantiasa menjaga diri dari berbagai faktor risiko. Namun, khusus untuk sarkoidosis, penyakit itu memang belum diketahui secara pasti penyebab dan langkah pencegahannya.

Satu-satunya yang bisa dilakukan seseorang agar terhindar dari sarkoidosis adalah mengurangi perkembangan penyakit dengan memeriksakan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan sarkoidosis.

Read More

Ketahui Seluk Beluk Penyakit Herpes Genital

Herpes genital adalah salah satu infeksi menular seksual yang cukup sering dijumpai. Penyakit ini menyebabkan munculnya lepuhan/luka yang tumbuh di sekitar alat kelamin. Orang dapat terjangkit infeksi menular seksual ketika mereka melakukan hubungan seksual secara oral, anal, ataupun vaginal. Dua jenis virus yang menyebabkan infeksi herpes genital adalah HSV-1 (herpes simplex 1) yang biasanya menyebabkan herpes oral, dan HSV-2 (herpes simplex 2) yang menyebabkan herpes genital. Beberapa orang dapat memiliki virus herpes tanpa menunjukkan gejala-gejala apapun.

Herpes oral menyebabkan luka atau koreng yang muncnul di bibir. Orang-orang biasanya menderita herpes oral akibat kontak dengan air liur penderita. Meskipun HSV-1 biasanya menyebabkan herpes oral, virus ini dapat menular ke daerah alat kelamin lewat sex oral, terutama apabila orang tersebut memiliki luka atau lepuhan kulit yang terbuka. Seseorang juga dapat menderita herpes oral dan herpes genital secara bersamaan. Saat ini, tidak ada obat untuk penyakit herpes genital. Penyakit ini sangat mudah menular ke orang lain meskipun ia tidak memiliki luka atau lepuhan kulit yang terbuka. Untuk mencegah penularan herpes genital, sangat penting untuk terus menggunakan alat pengaman saat melakukan hubungan seksual.

Gejala herpes genital

Herpes genital tidak selamanya menimbulkan gejala tertentu. Seseorang dapat tidak tahu mereka memiliki virus herpes di dalam tubuh. Saat gejala penyakit muncul, kulit di sekitar dubur atau alat kelamin akan terlihat melepuh dan luka. Luka atau lepuhan kulit akan tampak sekitar 2 hari hingga 3 minggu setelah melakukan hubungan seksual dengan orang yang mengidap herpes genital. Lepuhan kulit tersebut akan terasa sakit dan perih dan membutuhkan waktu mulai dari 2 hingga 6 minggu untuk benar-benar sembuh.

Penderita herpes genital juga akan merasa gatal selama beberapa hari di daerah sekitar alat kelamin. Selain itu, gejala herpes genital yang lain adalah sakit kepala, demam, lelah, kelenjar getah bening yang membengkak, dan sakit otot. Herpes akan sangat menular apabila luka atau lepuhan kulit terbuka. Dokter biasanya akan melakukan diagnosa herpes genital dengan menanyakan gejala apa saja yang dialami oleh pasien serta melakukan pemeriksaan terhadap lepuhan atau luka di sekitar dubur dan alat kelamin. Tes darah serta mengambil sampel kulit yang terluka juga dapat membantu diagnosa kondisi ini (meskipun kedua prosedur medis ini tidak selamanya dibutuhkan).

  • Gejala herpes genital pada laki-laki

Laki-laki lebih rentan untuk menderita herpes genital jika dibandingkan dengan perempuan. Lepuhan, luka, atau blister akan muncul di daerah sekitar penis, dubur, serta cairan tak biasa yang keluar dari penis.

  • Gejala herpes genital pada wanita

Sedang menstruasi dapat menyebabkan herpes genital kambuh. Biasanya wanita sering mengira gejala herpes genital dengan gejala keputihan atau infeksi kandung kemih.

Penularan herpes genital

Herpes genital dapat menular dalam beberapa cara, seperti hubungan seksual anal atau vaginal, serta kontak genital dengan orang yang memiliki virus tersebut; mendapatkan sex oral dari orang yang memiliki lepuhan atau luka kulit terbuka; menyentuh luka atau lepuhan herpes untuk kemudian menyentuh alat kelamin; dan seorang bayi dapat menderita herpes genital apabila saat lahir ibu memiliki virus herpes.

Orang-orang dapat menularkan virus herpes genital tanpa menunjukkan adanya gejala atau tanda-tanda penyakit ini. Virus ini hanya akan menyebar melalui kontak langsung antar manusia, dan tidak akan menular lewat sentuhan dengan benda atau permukaan apapun.

Read More