Mendiagnosis Berbagai Gangguan Medis dengan Tes Fosfat Darah

Tahukah Anda kadar fosfat yang terlalu tinggi atau terlalu rendah di dalam darah dapat menjadi tanda adanya gangguan ginjal? Bahkan dapat menjadi tanda bagi gangguan medis lain. Oleh sebab itu, tes fosfat darah perlu dilakukan.

Sesuai dengan namanya, tes fosfat darah merupakan suatu tindakan medis untuk memeriksa kadar fosfat di dalam darah. Bersama dengan kalsium, fosfat berperan untuk memperkuat tulang dan gigi. Mineral ini juga memiliki peranan penting dalam sistem saraf dan otot.

Jika tubuh Anda berfungsi dengan baik, ginjal akan membuang kelebihan fosfat dalam darah melalui urin. Itulah sebabnya, kadar fosfat yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi indikator adanya gangguan ginjal.

Pentingnya tes fosfat darah

Secara umum, tes fosfat darah dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Mulai dari mendiagnosis penyakit ginjal, kelainan tulang, penyakit paratiroid, ketoasidosis pada penderita diabetes, hingga gangguan saluran cerna yang berhubungan dengan penyerapan fosfat, kalsium, dan magnesium.

Pemeriksaan ini paling dibutuhkan oleh penderita penyakit ginjal dan paratiroid. Tanda atau gejala yang timbul, antara lain kelelahan, kram otot, dan nyeri tulang. Jadi, bila Anda sering merasakan gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Masalahnya, tidak semua pasien menunjukkan gejala. Beberapa dapat mengalami penyakit ginjal atau paratiroid, namun belum ada gejala signifikan yang dirasakan oleh pasien. Pada kasus demikian, riwayat penyakit ginjal pada pasien atau terganggunya kadar kalsium dapat menjadi dasar dilakukannya tes fosfat darah.

Mengapa kadar fosfat selalu dikaitkan dengan kalsium? Fungsi kedua mineral tersebut sejalan, sehingga gangguan kadar kalsium dapat menjadi indikator kemungkinan adanya gangguan kadar fosfat. Bahkan dalam pemeriksaannya pun biasanya dilakukan bersamaan, pemeriksaan kadar fosfat dan kadar kalsium. 

Prosedur tes fosfat darah

Pada prinsipnya, pemeriksaan kadar fosfat ini sama dengan pemeriksaan darah. Petugas medis akan mengambil darah dari tubuh pasien, kemudian sampel darah dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

Dari sampel darah tersebut, petugas medis akan melihat kadar fosfat dalam darah pasien. Kadar fosfat yang normal berkisar antara 2,5-4,5 mg/dL. Hasil pemeriksaan tentu dapat menunjukkan angka yang normal, lebih rendah atau lebih tinggi. Apa maknanya bagi kesehatan Anda?

Apabila kadar fosfat dalam darah Anda melebihi nilai normal, maka kemungkinan Anda mengalami penyakit ginjal, hipoparatiroidisme, ketoasidosis diabetikum, terlalu banyak asupan fosfat, hingga memiliki kadar vitamin D yang terlalu tinggi.

Sebaliknya, jika kadar fosfat dalam darah Anda rendah, diduga Anda mengalami hiperparatiroidisme, malnutrisi, osteomalasia atau memiliki pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi alkohol berlebihan.

Meski demikian, kadar fosfat yang tidak normal juga tidak selalu berarti pasien mengalami gangguan medis atau membutuhkan intervensi medis. Karena fosfat diperoleh dari makanan, seperti kacang-kacangan, sereal, susu, telur, daging sapi, daging ayam, atau ikan, maka asupan makanan juga akan sangat memengaruhi kadar fosfat tersebut.

Selain itu, usia juga merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Sebagai contoh, anak-anak memiliki kecenderungan kadar fosfat yang tinggi sebab tulang mereka masih dalam masa pertumbuhan.

Terkait kebutuhan intervensi medis ini, dokter Anda tentu akan menjelaskan lebih lanjut makna dari hasil tes fosfat darah yang dilakukan. Pola hidup, usia, serta riwayat kesehatan Anda akan menjadi faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh dokter, apakah Anda membutuhkan intervensi medis tertentu atau tidak.

Read More

Mastopexy

Mastopexy adalah prosedur operasi yang dilakukan untuk mengencangkan payudara. Operasi mastopexy melibatkan prosedur kosmetik dimana prosedur tersebut harus dilaksanakan oleh dokter bedah plastik.

Alasan Perlu Menjalani Mastopexy

Mastopexy bertujuan untuk memperbaiki bentuk payudara supaya wanita meningkatkan penampilan dan kepercayaan dirinya. Prosedur tersebut juga melibatkan pengangkatan lemak yang ada pada payudara pasien.

Sebagian orang membutuhkan mastopexy karena tidak hanya meningkatkan penampilan dan rasa percaya diri, namun juga untuk alasan sebagai berikut:

  • Payudara yang kendur, turun, dan mengecil.
  • Posisi puting payudara menurun.
  • Areola atau area sekitar puting payudara melebar secara tidak proporsional dengan ukuran payudara.
  • Posisi payudara yang tidak sesuai dengan payudara lain.

Alasan Seseorang Tidak Boleh Menjalani Mastopexy

Meskipun mastopexy merupakan prosedur yang tepat untuk memperbaiki payudara, tidak semua orang dapat melakukan prosedur tersebut, karena prosedur ini tidak direkomendasikan kepada wanita yang:

  • Merencanakan kehamilan, karena payudara dapat mengendur kembali setelah menjalani kehamilan jika telah menjalani prosedur mastopexy.
  • Sedang menyusui, karena prosedur mastopexy dapat mengganggu produksi air susu ibu (ASI).

Beberapa Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menjalani Mastopexy

Jika Anda ingin melakukan prosedur mastopexy, berikut adalah hal-hal yang perlu Anda perhatikan sebelum menjalani mastopexy:

  • Diskusikan dengan dokter apakah prosedur tersebut bermanfaat atau berisiko bagi Anda.
  • Pemeriksaan kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh.
  • Menjalani pemeriksaan fisik payudara Anda.
  • Diskusikan dengan dokter tentang hasil seperti apa yang Anda harapkan melalui prosedur mastopexy.
  • Melihat kondisi payudara melalui pemeriksaan mammogram atau X-ray untuk payudara sebelum operasi.
  • Berhenti merokok, karena merokok dapat mengurangi aliran darah pada tubuh dan menghambat proses pemulihan luka operasi.
  • Berhenti menggunakan obat-obatan yang dapat memicu risiko pendarahan selama operasi. Contoh obat yang tidak boleh dikonsumsi adalah obat aspirin dan obat anti peradangan.
  • Berpuasa selama 6 hingga 12 jam sebelum menjalani prosedur mastopexy.

Prosedur Mastopexy

Setelah melakukan hal-hal yang diminta di atas, Anda dapat menjalani prosedur mastopexy. Berikut adalah prosedur mastopexy:

  • Dokter akan memberi Anda obat bius.
  • Dokter akan membersihkan bagian payudara yang ingin diperbaiki dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi.
  • Setelah itu, dokter akan membuat sayatan pada payudara, dimulai dari sekitar areola hingga ke bagian bawah payudara.
  • Dokter kemudian menjahit bagian dalam payudara untuk membentuk ulang agar sesuai dengan payudara lain.
  • Dokter akan mengangkat jaringan payudara yang berlebihan dan meletakkan puting agar setara dengan payudara lain.
  • Dokter akan menutupi sayatan dengan menjahitnya dan menggunakan perban.

Setelah Menjalani Mastopexy

Setelah menjalani operasi, Anda perlu melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

  • Pemasangan selang

Anda perlu menggunakan selang kecil pada bagian sayatan untuk mengeluarkan cairan atau darah yang masih tersisa. Selang kemudian akan diangkat dalam waktu beberapa hari.

  • Menggunakan BH khusus

Dokter akan meminta pasien menggunakan BH khusus selama 3 hingga 4 hari. Setelah itu, Anda dianjurkan untuk menggunakan BH berbahan lembut selama 3 hingga 4 minggu.

  • Konsumsi obat pereda nyeri

Anda mungkin akan mengalami pembengkakan dan memar pada payudara sehingga Anda membutuhkan obat pereda nyeri.

  • Hindari beberapa hal

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan setelah menjalani mastopexy adalah:

  • Jangan mengejan.
  • Jangan mengangkat benda berat selama beberapa hari pascaoperasi.
  • Jangan melakukan aktivitas seksual selama 1 hingga 2 minggu.
  • Hindari paparan sinar matahari secara langsung pada payudara.

Komplikasi

Untuk informasi lain tentang mastopexy, Anda dapat menanyakan dokter. Selain itu, Anda juga perlu pahami bahwa mastopexy dapat memicu komplikasi, antara lain:

  • Pendarahan.
  • Infeksi.
  • Pusing dan mual.
  • Kematian jaringan kulit (nekrosis).
  • Bentuk payudara yang tidak simetris.
  • Perubahan sensasi pada kulit di sekitar payudara.
Read More

Apa Itu Tindakan Medis Tonometri?

Tonometri adalah pemeriksaan diagnosa untuk mengukur tekanan di bagian dalam bola mata, atau biasa disebut dengan istilah tekanan intraocular (IOP). Pengukuran ini dapat membantu dokter menentukan apakah Anda memiliki risiko glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata serius di mana adanya peningkatan tekanan cairan di dalam bola mata. Peningkatan tekanan tersebut dapat merusak saraf optik. Glaukoma biasanya terjadi pada orang tua berusia lebih dari 60 tahun, dan menjadi penyebab utama kebutaan pada orang-orang pada grup usia tersebut.

Untuk mendeteksi adanya perubahan pada tekanan pada mata jauh sebelum Anda menyadari ada sesuatu hal yang salah, prosedur tonometri dilakukan. Jenis tonometri yang paling sering dijumpai adalah tes tonomoetri applanation Goldmann. Selama berpuluh-puluh tahun, jenis tes tersebut sudah dianggap sebagai standar internasional untuk mengukur IOP.  Selain itu, ada metode pemeriksaan tekanana mata lain seperti pneumotonometry dan penggunaan Tono-Pen. 

Dalam kasus pneumotonometry, penggunaan alat yang menyerupai piston udara digunakan untuk memberikan tekanan udara pada mata. Alat tersebut akan menghembuskan sedikit udara pada kornea mata, dan mengukur tekanan di mata. Apabila alat menunjukkan hasil yang tidak normal, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengonfirmasi diagnosa yang dibuat. Namun, tes ini biasanya dianggap kurang akurat apabila dibandingkan dengan tes tonometri applanation Goldmann. Sementara itu, Tono-Pen adalah alat yang berbentuk seperti ‘marker’ yang besar, dan menyediakan pembacaan tekanan mata secara digital. Dokter dapat menggunakan alat tersebut untuk menyentuh mata dan mengukur tekanan. Meskipun sangat bermanfaat di banyak kasus, Tono-Pen dianggap kurang akurat apabila dibandingkan dengan tonometer Goldmann pada orang-orang dengan kornea yang normal.

Siapa saja yang membutuhkan tes tonometri?

Dokter akan meminta Anda untuk mendapatkan tes tonometri applanation Goldmann apabila mereka mencurigai adanya risiko glaukoma. Apabila tes hembusan udara dan tes mata lain mengindikasi adanya potensi gangguna kesehatan, dokter akan meminta Anda untuk mendapatkan tes tonometri untuk mengonfirmasi atau mengesampingkan glaukoma. Menurut penelitian, Anda mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita glaukoma apabila Anda memiliki darah Hispanic atau African-American. Anda juga memiliki risiko lebih tinggi apabila berumur di atas 60 tahun, memiliki riwayat keluarga menderita glaukoma, menderita diabetes dan hypothyroidism, memiliki kondisi mata kronis lain atau cidera, rabun jauh, dan menggunakan obat-obatan corticosteroid dalam waktu yang lama. Anda juga perlu mendapatkan tes apabila Anda mengalami gejala-gejala seperti hllangnya penglihatan, rasa sakit pada mata yang parah, pandangan kabur, dan mata memerah. Tanda-tanda tersebut merupakan gejala glaukoma yang umum dirasakan.

Prosedur tonometri

Sebelum tes tonometri, dokter mata Anda akan meneteskan obat tetes mata untuk membuatnya mati rasa sehingga Anda tidak akan merasakan appapun saat mata disentuh. Dokter kemudian akan menyentuh mata menggunakan kertas berwarna jingga ke permukaan mata untuk meningkatkan keakurasian tes. Dokter kemudian akan menaruh sebuah mesin yang disebut ‘slit-lamp’ di depan Anda. Lampu akan digerakkan kearah mata  hingga ujung dari tonometer menyentuh kornea. Dengan sedikit meratakan kornea, alat tersebut dapat mendeteksi tekenana di mata. Dokter akan menyesuaikan tekanan hingga mereka bisa mendapatkan pembacaan yang tepat.

Karena mata Anda akan mati rasa selama beberapa saat, Anda tidak akan merasakan rasa sakit apapun selama prosedur berlangsung. Tonometri merupakan sebuah prosedur medis yang sangat aman. Namun, ada risiko yang sangat kecil yaitu ketika kornea mata Anda tergres ketika tonometer menyentuh mata, dan akan sembuh setelah beberapa hari.

Read More

Sunat Tanpa Suntik

Sunat merupakan prosedur operasi perlu dilakukan pada pria untuk membuang kulit yang menutupi bagian kepala penis. Orang-orang biasanya disunat ketika mereka masuk TK atau berada di sekolah dasar. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan prosedur ini, namun sunat tanpa suntik juga dapat dilakukan agar pemulihannya lebih cepat.

Setiap pria harus menjalani prosedur sunat agar menjaga kebersihan diri. Sunat juga sangat diperlukan sebagai ritual bagi orang-orang yang beragama Yahudi dan Islam. Sunat juga diperlukan bagi suku-suku asli di Afrika dan Australia.

Mengapa Perlu Disunat?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orang-orang yang disunat justru akan memberikan manfaat. Walaupun sunat dapat dilakukan ketika manusia baru lahir, ada baiknya untuk orang tua memikirkan keputusan ini. Laki-laki perlu disunat karena dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Lebih mudah menjaga kebersihan

Manfaat utama laki-laki perlu disunat adalah untuk menjaga kebersihan pada alat kelamin. Setiap laki akan merasa lebih mudah untuk mencuci penis setelah disunat.

  • Mencegah masalah penis

Manfaat lain laki-laki perlu disunat adalah mencegah masalah pada penis. Terkadang laki-laki mengalami peradangan pada kulup atau kepala penis karena tidak disunat sehingga sulit untuk ditarik kembali. Istilah ini disebut sebagai phimosis.

  • Mengurangi risiko infeksi saluran kemih

Laki-laki perlu disunat untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih cenderung terjadi pada laki-laki yang tidak disunat. Infeksi pada saluran kemih dapat menimbulkan masalah pada ginjal.

  • Mengurangi risiko menular secara seksual

Laki-laki yang disunat akan memiliki risiko lebih kecil terhadap penyakit menular secara seksual seperti HIV. Tidak hanya disunat, namun laki-laki juga perlu melakukan praktik seksual dengan aman untuk mencegah penyakit menular.

  • Mengurangi risiko kanker penis

Walaupun jarang terjadi, kanker penis bisa saja terjadi, bahkan pada orang yang sudah disunat, namun orang-orang tetap perlu melakukannya untuk melindungi diri dari risiko kanker penis.

Metode Sunat Tanpa Suntik

Seiring berkembangnya teknologi dari tahun ke tahun, hal tersebut juga memberikan manfaat di bidang kesehatan. Orang-orang yang perlu disunat pada zaman dahulu melibatkan obat bius atau anestesi. Namun, dokter sekarang dapat melakukan sunat tanpa suntik pada pasien.

Dengan melakukan sunat tanpa suntik, cara ini berbeda dengan sunat dengan suntik dimana dokter perlu menunggu selama 5 menit untuk memastikan efek obat biusnya bekerja. Metode sunat tanpa suntik dilakukan dengan obat anestesi melalui semprotan. Partikel yang terdapat pada semprotan tersebut tidak menimbulkan pembengkakan pada pembuluh darah sehingga aman untuk digunakan.

Metode sunat tanpa suntik dapat diterapkan pada pasien supaya menghindari trauma karena rasa sakit yang dialami selama prosedur sunat berlangsung.

Risiko Yang Terjadi Setelah Disunat

Orang-orang sangat dianjurkan untuk melakukan sunat di usia yang awal untuk mencegah terjadinya risiko penyakit mematikan seperti HIV. Pilihan metode yang digunakan juga beragam, termasuk sunat tanpa suntik dengan menggunakan semprotan.

Di sisi lain, orang-orang juga perlu pahami bahwa prosedur ini, sama seperti operasi lain, memiliki risiko yang memungkinkan terjadi. Risiko yang memungkinkan terjadi antara lain:

  • Rasa sakit pada penis.
  • Iritasi.
  • Infeksi.
  • Risiko pendarahan pada penis.
  • Risiko cedera pada penis.
  • Peradangan pada penis (meatitis).

Jika seseorang perlu disunat, ada baiknya jika mereka berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu mengenai prosedur mana yang perlu dilakukan. Setelah melakukan sunat, termasuk metode sunat tanpa suntik, pasien perlu beristirahat selama 10 hari demi menjaga kesehatan alat kelamin mereka. Setelah itu, mereka dapat melakukan aktivitas dengan normal.

Read More