Tips Pacaran Anak Jaman Sekarang yang Sehat

Tips parenting pacaran anak jaman sekarang yang sehat.

Tidak berlebihan apabila kita menganggap masa remaja adalah masa yang penuh suka cita dan cinta. Tidak mengherankan juga apabila fenomena pacaran anak jaman sekarang sering ditemukan. Bagi mereka yang baru saja menginjak usia remaja, memiliki hubungan spesial dengan kekasih merupakan suatu hal yang diinginkan. Menurut Roslina Verauli, seorang psikolog anak dan remaja, pacaran merupakan kegiatan akrab antara satu orang dengan orang lain dengan ketertarikan satu sama lain. Tujuan pacaran, menurut beberapa riset, adalah untuk mengenal pasangan dengan lebih dalam, sebagai sebuah bentuk kegiatan bersenang-senang, hanya sebagai sebuah bentuk status sosial atau simbol, hingga fungsinya sebagai alat memperluas jaringan. 

Kerap diidentikkan sebagai sebuah bentuk komitmen atas dasar cinta, nyatanya, tidak semua jenis pacaran anak jaman sekarang berdasarkan romantisme tersebut. Menurut Verauli, ada beberapa kegiatan pacaran dengan tujuan atau alasan finansial, misalnya mendapatkan fasilitas gratis. Entah apa alasannya, tidak dapat dipungkiri gaya pacaran anak jaman sekarang lebih frontal. Anak remaja tanpa rasa malu berpelukan dan berciuman di depan umum. Belum lagi mereka yang sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan di bawah umum. Tentu, gaya pacaran anak jaman sekarang ini merupakan gaya pacaran yang tidak sehat dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Lalu, apa yang anak jaman sekarang perlu lakukan agar gaya pacaran mereka lebih dapat diterima di masyarakat?

  • Tambah pengetahuan seputar seks

Edukasi tentang seks merupakan hal yang tabu untuk masyarakat Indonesia. Masyarakat berpikir bahwa edukasi jenis ini hanya akan membuat remaja terjerumus dalam jurang seks bebas yang tidak ada dasarnya. Padahal, edukasi seks penting mengingat dengan atau tanpa edukasi, pacaran anak jaman sekarang melakukan hubungan ini. Pengetahuan seksual penting mengingat para remaja banyak tidak tahu dampak dari seks bebas yang tidak bertanggung jawab. Remaja harus tahu efek fisik dan mental yang seseorang bisa dapatkan akibat melakukan hubungan seks di luar nikah dan/atau di bawah umur. Para remaja, khususnya perempuan, harus paham benar bahwa tubuh mereka sangat berharga, dan tidak patut dirusak oleh aktivitas yang merugikan tersebut. Orang tua, sayangnya, terus menganggap seks merupakan hal yang tidak patut untuk dibicarakan. Hal ini sangat fatal, mengingat orang tua merupakan pendidik utama anak. Apabila orang tua bersikap tertutup pada suatu isu, anak akan mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan dari sumber lain. Tidak menutup kemungkinan mereka akan mendapatkan jawaban dari sumber yang tidak jelas, dan malah menjerumuskan anak.

  • Hindari kekerasan fisik dan mental

Kekerasan, baik fisik maupun mental, kerap dijumpai di kegiatan pacaran anak jaman sekarang. Kekerasan mental berarti salah satu pasangan disakiti psikis atau mentalnya. Kekerasan jenis ini dapat berupa ucapan verbal atau tindakan tertentu yang dapat menghancurkan pikiran seseorang. Sementara itu, kekerasan fisik mengacu pada bentuk perlakuan kasar yang menyakiti tubuh seseorang, dapat berupa pukulan, tamparan, atau bahkan pemerkosaan. Agar pacaran remaja tetap sehat, hindari kedua jenis kekerasan tersebut. Hargai masing-masing pasangan dan selesaikan segala permasalahan dengan lebih bijak.

Pacaran anak jaman sekarang lebih sering dilandasi karena nafsu. Para remaja ini ini biasanya belum siap secara mental untuk menjalin sebuah komitmen dan tidak tahu menahu seputar faktor apa saja yang dapat membuat sebuah hubungan percintaan sehat. Orang tua harus mendidik anak mereka dan membimbing agar dampak buruk pacaran tidak terjadi.

Read More

Seperti Apa Pyratis, Mainan untuk Anak dengan Autisme?

pyratis mainan anak autisme

Bermain merupakan metode pembelajaran yang efektif. Anak dengan autism spectrum disorder (ASD) menerima pembelajaran dengan lebih baik jika diajarkan lewat permainan. Mainan diharapkan merangsang perkembangan motorik, bahasa, interaksi sosial, dan pemecahan masalah si anak.

Lima mahasiswa Teknik Industri Universitas Surabaya mengembangkan mainan yang berfokus pada perkembangan motorik kasar dan halus anak dengan austisme. Para mahasiswa angkatan 2016 itu mengembangkan mainan tersebut mulai tahun lalu, berangkat dari mata kuliah kerja praktik. Tugas dari dosen mereka adalah mengembangkan alat teknik yang dapat digunakan mendukung aktivitas anak disabilitas, yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tapi juga kepentingan sosial.

Setelah memutuskan membuat mainan untuk anak dengan autisme, lima sekawan itu melakukan survei ke sejumlah tempat, termasuk sekolah luar biasa. Hasilnya, “anak dengan autisme cenderung suka dengan barang-barang berbentuk unik,” kata Ayunda Permata Sukma, mahasiswa asal Bali. Namun, sejumlah mainan yang terdapat di tempat-tempat yang mereka datangi memiliki bentuk yang monoton. Kalau tidak berbentuk kotak, lingkarang, ya, segitiga.

Temuan itu mendorong Ayunda dan kawan-kawan mengembangkan bentuk lain. Mereka memilih piramida sebagai bentuk dasar Pyratis. Dirancang selama tiga bulan, piramida itu terdiri atas tiga bagian. Bagian dasar berisi permainan pegas, bagian tengah ada pompa-pompaan, dan paling atas sebagai penutup.

Pyratis memiliki misi. Di bagian bawah, terdapat dua jalur yang dilewati bidak yang tersambung pegas. Anak harus fokus untuk menggerakkan bidak dari posisi awal menuju akhir. Jika terlepas, bidak akan kembali ke titik mulai.

Bagian tengah mengusung konsep labirin. Anak diajarkan memindahkan bola dari awal hingga akhir menggunakan pompa yang mirip pengukur tekanan darah. Dua pompa, dipegang di tangan kiri dan kanan, akan menentukan arah gerak labirin. “Permainan ini diharapkan untuk meningkatkan kemampuan fokus anak, serta melatih motorik kasar dan halusnya,” ujar Ayunda.

Pyratis menjadi karya terbaik di mata kuliah tersebut. “Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, permainan ini memberikan kesenangan tersendiri,” ujar Yenny Sari, dosen teknik industrik Universitas Surabaya.

Pyratis telah diujicoba di Sekolah Harapan Bunda, Surabaya. Niken Ayu Candra Wulan, wakil kepala sekolah, mengatakan anak-anak didiknya menggemari mainan tersebut. “Warna tampilan dan bentuk Pyratis unik,” kata Niken. “Permainan ini menarik perhatian anak-anak, baik dari tampilan maupun cara memainkannya. Ini sangat membantu anak-anak melatih motoriknya.”

Read More