Waspadai Bila Anda Sering Mulas, Mungkin Itu GERD

waspada mulas gerd

Jangan abaikan rasa mulas yang sering terjadi karena bisa saja itu adalah GERD. Menurut pakar gastroentologi, Joel Richter, setiap orang pasti pernah merasakan mulas tetapi saat rasa mulas itu semakin parah, dua sampai tiga kali seminggu misalnya, itu bisa saja gejala GERD.

GERD dapat mengganggu aktivitas Anda sehari-hari karena mengakibatkan sakit tenggorokan dan nyeri pada dada.

Ketika Anda mulas parah

Studi di Amerika menyebutkan bahwa 15 juta warga Amerika baik anak-anak maupun orang dewasa mengalami GERD. Banyak dari mereka yang mengalami mulas sebagai gejala awal. Akar dari permasalahan ini adalah lemahnya katup pemisah antara kerongkongan dan perut.

Alasan pasti mengapa hal ini bisa terjadi masih menjadi pertanyaan di antara para ahli namun para dokter menyimpulkan bahwa katup sering tidak berfungsi dengan baik pada orang-orang yang:

  • Memiliki kelebihan berat badan. Lemak yang tertimbun pada perut dapat menekan katup sehingga menjadi lemah dan terbuka
  • Hamil. Saat masa kehamilan, hormon berperan penting dalam melemaskan katup. Dan karena janin yang terus berkembang, tekanan pada perut semakin besar dan membuat asam lambung naik
  • Menderita hiatal hernia. Kelainan pada abdomen yang menyebabkan otot katup tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

GERD bisa saja ditandai dengan rasa mulas parah termasuk kesulitan menelan dan gumpalan yang terasa di kerongkongan. Jika tidak segera dilakukan tindakan dan perubahan pola hidup sehat, gejala ini akan semakin parah.

Perubahan pola hidup dapat mencegah GERD

Sering mengalami mulas parah? Mungkin ini saatnya mengubah pola makan dan gaya hidup menjadi lebih sehat. Mulai dari pola tidur hingga cara makan – pola hidup sehat dapat membantu Anda menghindari mulas dan gejala GERD lainnya.

Jika Anda memiliki kelebihan berat badan, tak ada salahnya mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan menurunkan berat agar lebih ideal. Dalam GERD, berat badan menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah komplikasi terjadi. Menurut penelitian, mulas parah kerap terjadi pada orang-orang berbadan gemuk atau yang mengalami obesitas. Mulas ini disertai iritasi di bagian kerongkongan.

Terlalu banyak makan juga menyebabkan rasa mulas yang parah karena refluks asam lambung. Terutama saat makan malam dimana orang cenderung makan lebih banyak.

Meski begitu, kondisi GERD setiap orang berbeda-beda dan menghindari makanan tertentu seperti makanan pedas ataupun makanan asam, belum tentu bisa menyembuhkan GERD.

Pengobatan untuk mulas parah

H2 blocker dan proton pum inhibitor adalah dua kandungan obat yang sering digunakan untuk mengatasi mulas parah. Keduanya berfungsi untuk mengurangi jumlah produksi asam lambung sehingga tidak sampai naik ke kerongkongan.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat membantu Anda menentukan apakah kondisi mulas yang Anda alami termasuk dalam gejala GERD atau tidak:

  • Apakah Anda mengalami mulas lebih dari tiga kali dalam seminggu?
  • Apakah Anda sering mengalami rasa panas dan nyeri di bawah tulang dada?
  • Apakah gejala yang Anda alami semakin parah setelah makan?
  • Apakah Anda tidak bisa lepas dari Antacid untuk meredakan gejala Anda?
  • Apakah gejala yang Anda alami semakin parah saat Anda berbaring?
  • Apakah mulut Anda terasa asam?
  • Apakah Anda kesulitan tidur di malam hari?
  • Apakah Anda memiliki asma yang semakin parah ketika sedang mulas?
  • Apakah suara Anda menjadi parau saat mulas?
  • Apakah gejala-gejala mulas tersebut menganggu rutinitas Anda?

Jika sebagian besar jawabannya adalah iya, maka kemungkinan besar Anda terkena GERD.

Read More

Radiasi Sinar Alfa: Terapi Baru yang Berhasil Menyembuhkan 70% Tumor Ganas

pengidap tumor ganas

Kanker merupakan penyakit yang paling sulit disembuhkan, namun banyak diderita manusia. Di tahun 2018 saja, diketahui ada 17 juta kasus dan 9,6 juta kematian karena kanker di dunia – di mana 33% di antaranya disebabkan paparan terhadap asap tembakau.

Meskipun demikian, pengobatan kanker juga terus berkembang seiring perkembangan zaman. Salah satu terobosan terbaru di tahun 2018 adalah terapi radiasi alfa yang dipopulerkan oleh salah satu startup medis di Israel, Alpha Tau. Konon, terapi ini dianggap dapat mengeliminasi 70% tumor ganas. Kini, teknologi mereka sedang berada dalam tahap penelitian klinis untuk beberapa jenis spesifik kanker dan menunjukkan potensi untuk menyembuhkan tumor apa pun. Akan tetapi, bagaimana cara kerja dan keamanannya? Selain itu, apakah terobosan ini akan segera masuk ke pasar dunia kesehatan?

Radiasi Sinar Alfa untuk Membunuh Sel Lanker

Lima belas tahun yang lalu, Profesor Yona Keisari dan Itzhak Kelson dari Universitas Tel Aviv menemukan sebuah cara untuk menggunakan radiasi alfa untuk membunuh tumor. Caranya cukup revolusioner – radiasi alfa cukup kuat sehingga dapat langsung memutus kedua untai DNA sel kanker, tetapi tidak mengganggu jaringan sehat di sekitarnya.

Meskipun demikian, radiasi alfa tidak dapat berpindah lebih dari 50 mikron (1/20 milimeter) dalam jaringan manusia. Dengan demikian, untuk menyembuhkan tumor seukuran 5 cm, akan dibutuhkan ratusan ribu partikel alfa – sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Keisari dan Kelson menemukan sebuah perkembangan baru pada temuannya. Saat dipaparkan melalui isotop tertentu dari elemen radium, radiasi alfa dapat bergerak sebanyak 3 mm. Isotop dari Radium 224 melepaskan atom yang dapat berdifusi ke dalam tumor dan melepaskan partikel alfanya sendiri.

Alpha Tau merupakan satu-satunya perusahaan yang menggunakan radiasi alfa untuk membersihkan tumor. Sedangkan, semua jenis brankiterapi lain menggunakan radiasi sinar beta atau gamma. “Tetapi hanya memutus satu untai DNA, sehingga sel tersebut bisa muncul kembali,” tutur Uzi Sofer, pendiri Alpha Tau.

Saat sel sehat di sekitar tumor tidak dihancurkan bersama dengan kanker, sistem imun akan menyerang jenis tumor berbeda yang ada dalam tubuh. Kejadian inilah yang menyebabkan 85% pasien kanker berakhir dengan kematian.

Teknologi Alpha DaRT Tidak Memberikan Efek Samping

Terapi kanker yang sekarang diterapkan kebanyakan memanfaatkan radioterapi yang bukan hanya membunuh sel kanker, tetapi juga sel sehat – ditandai dengan kerontokan rambut, muntah, dan lain sebagainya. Efek samping ini bukan hanya membuat penderitanya hilang semangat untuk terapi, tetapi juga keluarga yang menemani dan merawat mereka.

Lain dengan teknologi Alpha DaRT – singkatan dari Diffusing Alpha-emitters Radiation Therapy – yang diketahui memiliki fungsi spesifik hanya membunuh sel kanker dan tidak memberi efek apa pun pada jaringan sehat di sekitarnya. Selain itu, penelitian juga belum menemukan efek samping sistemik di dalamnya.

Alpha DaRT dikatakan sangat efektif dan cocok untuk terapi radiasi kanker solid. Cara kerjanya adalah dengan langsung memasukkan senyawa ke dalam tumor, kemudian biji Alpha DaRT akan langsung melepaskan dosis berenergi tinggi dalam rentang ukuran beberapa milimeter – inilah alasannya mengapa teknologi ini tidak memengaruhi sel sehat.

Selain itu, terapi Alpha DaRT juga dapat diberikan hanya dengan penggunaan anestesi lokal dan dapat dikombinasi dengan kemoterapi dan imunoterapi untuk meningkatkan efektivitas.

Sudah Memasuki Tahap Penelitian Klinis

Penelitian klinis DaRT dijadwalkan untuk dilakukan pada tahun 2019 dan akan berlangsung di Perancis, Montreal, New York, Rusia, dan Israel. Penelitian lain juga akan dilakukan pada lebih dari 20 indikasi – seperti kanker pankreas, prostat, payudara, vulvar, serviks, ginjal, dan kolon – pada fasilitas kesehatan di lebih dari 25 negara.

Di bawah kepemimpinan Sofer, Alpha Tau sekarang memiliki 26 staff di Israel, termasuk professor yang menemukan teknologi ini. Pada uji klinis selanjutnya, Sofer berharap Alpha DaRT akan menerima persetujuan Uni Eropa di tahun 2020 diikuti dengan Amerika dan Jepang di tahun 2022.

“Kami sudah menyelamatkan banyak nyawa dalam penelitian,” ungkapnya. “Saya merasa sangat senang melihat pasien yang telah putus asa, kemudian 60 hari setelah mendapat terapi, mendengar bahwa mereka sudah terbebas dari kanker dan tidak ada lagi sel tumor dalam tubuhnya. Saya sudah memasuki bisnis ini selama beberapa tahun, tetapi ini adalah bagian yang paling menyenangkan untuk saya.”

Read More

Konstipasi: Risiko Penyebab dan Penanganan yang Tepat

risiko penyebab konstipasi

Sistem pencernaan sebenarnya dapat bekerja dengan sangat efisien. Dalam waktu beberapa jam, ia dapat menyerap nutrisi dari asupan yang Anda makan dan minum, mengolahnya menjadi aliran darah, dan menyiapkan bahan sisanya untuk dibuang. Bahan itu melewati sekitar 6 meter usus sebelum akhirnya disimpan sementara di usus besar, di mana kandungan air akan dikeluarkan. Residunya akan diekskresikan melalui usus dalam satu atau dua hari.

Proses pengeluaran sisa makanan berupa kotoran ini akan bergantung pada pola makan, usia, dan aktivitas harian Anda. Biasanya, pola buang air besar tiap orang berbeda, hal ini dapat berarti tiga kali sehari hingga tiga per minggu.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa jika residu makanan yang menjadi feses tersimpan lama di usus besar, maka akan semakin sulit tinja untuk keluar karena sudah terlalu keras akibat air yang terlalu banyak terserap. Kotoran yang normal seharusnya tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Normalnya, Anda tidak seharusnya kesulitan saat mengeluarkannya.

Penyebab Konstipasi

Konstipasi atau sembelit dapat diakibatkan oleh beberapa hal. Namun, penyebab utamanya adalah gaya dan pola hidup yang tidak sehat, khususnya untuk asupan makanan dan minuman harian di mana seseorang tidak makan cukup serat atau minum air putih yang sebanyak yang dibutuhkan. Selain itu, kurangnya waktu berolahraga dan kebiasaan menahan diri saat ingin buang air juga menjadi penyebab konstipasi terjadi.

Bahkan, konstipasi kronis yang persisten dapat juga menjadi gejala dari kondisi kesehatan yang lebih serius, seperti sindrom iritasi usus, kanker kolorektal, diabetes, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, depresi, atau kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Meskipun begitu, perlu dipahami bahwa rutinitas buang air besar seseorang cenderung bervariasi bergantung pada usia, pola makan, dan aktivitas. Bayi yang diberi susu botol, misalnya, cenderung memiliki kotoran yang lebih keras dan sering mengalami sembelit dibandingkan bayi yang diberi ASI. Selanjutnya. sebagian anak juga mengalami sembelit karena terlalu sering menahan buang air di sekolah. Begitu pula dengan balita yang sering sembelit selama toilet training karena dia tidak mau atau takut untuk menggunakan toilet. Anak-anak juga dapat mengalami sembelit karena mengonsumsi makanan tertentu, seperti produk susu.

Berbeda dengan anak-anak, orang tua kerap mengalami sembelit karena asupan makanan berserat dan cairan tubuh yang kurang. Selain itu, kebiasaan duduk terlalu lama juga menjadi alasan mengapa konstipasi terjadi. Beberapa jenis obat-obatan juga kerap menyebabkan sembelit seperti narkotika, diuretik, suplemen zat besi, antasida, dan obat-obatan untuk tekanan darah, kejang, dan depresi.

Penanganan Konstipasi

Secara umum, cara tepat untuk menangani konstipasi atau sembelit adalah dengan melakukan pola hidup yang sehat, mulai dari:

  1. Perbanyak asupan serat seperti sayuran dan buah setiap hari
  2. Perhatikan asupan air putih dan hindari minuman beralkohol
  3. Biasakan olahraga
  4. Hindari kebiasaan menahan buang air
Read More