Perbedaan Lip Flip dan Lip Filler

Lip flip dilakukan melalui penyuntikan botox pada bibir.

Bagi sebagian perempuan, lipstik merupakan salah satu kosmetik yang wajib digunakan agar membuat wajah terlihat semakin segar dan tidak kelihatan pucat. Meski demikian, banyak juga perempuan menempuh jalan lain agar bisa mempercantik bagian bibir mereka. Salah satunya menggunakan teknik lip flip dan lip filler.

Tidak sedikit perempuan yang menggunakan lipstik dan lip liner agar bibir terlihat penuh, cara cukup mudah bagi mereka yang tak ingin repot dalam menebalkan bibir adalah dengan memilih prosedur pembesaran bibir. Pembesaran bibir ini dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia seperti botulinum toxin atau juga dikenal dengan sebutan botox.

Lip Flip

Prosedur pembesaran bibir atas nantinya dilakukan dengan menyuntikan botox dalam jumlah yang kecil di sudut mulut dekat dengan lekukan bagian tengah bibir atas atau cupid’s bow. Suntikan botox akan membuat otot-otot di area tersebut rileks sehingga mampu dibentuk dan sedikit ditarik ke luar bagian terdepan.

Prosedur tersebut membuat permukaan bibir terlihat lebih luas, besar dan penuh, pembesaran bibir merupakan prosedur non-bedah yang bisa menjadi pilihan alternatif di samping operasi bedah bibir atau filler bibir. Karena efek samping yang ditimbulkan lebih sedikit dengan biaya lebih murah dan prosedurnya terbilang mudah dan cepat.

Varian pembesaran bibir atas ini mampu memperbaiki senyum, di mana jaringan gusi yang terlalu banyak terlihat di atas saat tersenyum bisa tertutup. Sangat penting bagi pasien untuk memahami bahwa prosedur ini memberi hasil yang lebih halus ketimbang efek yang didapat melalui jenis perbaikan lainnya, seperti lip filler. 

Lip Filler

Disebut juga pengisi bibir sama halnya dengan pengisi kulit lainnya terbuat dari bahan non-hewani, merupakan senyawa yang muncul secara alami dari tubuh. Sebagai bagian dari proses penuaan, protein tertentu dalam tubuh mulai berkurang produksinya. Dengan lebih sedikit protein penghubung yang menahan molekul air, kulit bisa kehilangan volume beserta strukturnya.

Lip filler mamu digunakan untuk mengembalikan volume pada bibir hingga meningkatkan bentuk, ukuran, proyeksi dan simetri bibir. Umur panjang pengisi dermal bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, pengisi dermal biasanya dapat bertahan antara tiga hingga 24 bulan tergantung pada pengisi digunakan untuk area mana.

Krim penghilang rasa dan anestesi lokal disarankan untuk digunakan para pasien, hal ini demi kenyamanan ketika menjalani proses lip filler. Penyumbatan saraf paling efektif karena anestesi lokal mampu menghentikan sensasi dari suntikan yang dikirim ke sensor nyeri di otak. Biaya prosedur ini tergantung dari bahan yang digunakan dan jumlahnya.

Risiko Pembesaran Bibir

Pembesaran bibir bagian atas dianggap sebagai prosedur yang aman dan memiliki risiko rendah, botox yang digunakan terbilang sangat sedikit. Namun, bukan berarti prosedur ini tanpa risiko, akan muncul memar kecil atau pembengkakan yang bisa terjadi di area injeksi. Apabila dosis botox lebih besar dari dosis yang seharusnya, maka dapat menyebabkan bibir terlalu lemas.

Sehingga akan bibir akan sulit menutup, selain itu dosis botox yang tidak sesuai pada penerapan prosedur lip flip dapat menimbulkan beberapa kondisi. Di antaranya seperti, keluarnya air liur secara tidak sengaja dari mulut, tidak mampu untuk meludah atau bersiul, kesulitan menjaga cairan di mulut setelah minum hingga terkulai dan mirip gejala stroke.

Pada kasus yang jarang terjadi, botox juga dapat menyebabkan sakit kepala, demam dan meriang. Efek samping botox yang sangat langka pada prosedur seperti ini dikenal dengan nama botulisme salah satu tandanya adalah sulit menelan.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*