Radiasi Sinar Alfa: Terapi Baru yang Berhasil Menyembuhkan 70% Tumor Ganas

pengidap tumor ganas

Kanker merupakan penyakit yang paling sulit disembuhkan, namun banyak diderita manusia. Di tahun 2018 saja, diketahui ada 17 juta kasus dan 9,6 juta kematian karena kanker di dunia – di mana 33% di antaranya disebabkan paparan terhadap asap tembakau.

Meskipun demikian, pengobatan kanker juga terus berkembang seiring perkembangan zaman. Salah satu terobosan terbaru di tahun 2018 adalah terapi radiasi alfa yang dipopulerkan oleh salah satu startup medis di Israel, Alpha Tau. Konon, terapi ini dianggap dapat mengeliminasi 70% tumor ganas. Kini, teknologi mereka sedang berada dalam tahap penelitian klinis untuk beberapa jenis spesifik kanker dan menunjukkan potensi untuk menyembuhkan tumor apa pun. Akan tetapi, bagaimana cara kerja dan keamanannya? Selain itu, apakah terobosan ini akan segera masuk ke pasar dunia kesehatan?

Radiasi Sinar Alfa untuk Membunuh Sel Lanker

Lima belas tahun yang lalu, Profesor Yona Keisari dan Itzhak Kelson dari Universitas Tel Aviv menemukan sebuah cara untuk menggunakan radiasi alfa untuk membunuh tumor. Caranya cukup revolusioner – radiasi alfa cukup kuat sehingga dapat langsung memutus kedua untai DNA sel kanker, tetapi tidak mengganggu jaringan sehat di sekitarnya.

Meskipun demikian, radiasi alfa tidak dapat berpindah lebih dari 50 mikron (1/20 milimeter) dalam jaringan manusia. Dengan demikian, untuk menyembuhkan tumor seukuran 5 cm, akan dibutuhkan ratusan ribu partikel alfa – sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Keisari dan Kelson menemukan sebuah perkembangan baru pada temuannya. Saat dipaparkan melalui isotop tertentu dari elemen radium, radiasi alfa dapat bergerak sebanyak 3 mm. Isotop dari Radium 224 melepaskan atom yang dapat berdifusi ke dalam tumor dan melepaskan partikel alfanya sendiri.

Alpha Tau merupakan satu-satunya perusahaan yang menggunakan radiasi alfa untuk membersihkan tumor. Sedangkan, semua jenis brankiterapi lain menggunakan radiasi sinar beta atau gamma. “Tetapi hanya memutus satu untai DNA, sehingga sel tersebut bisa muncul kembali,” tutur Uzi Sofer, pendiri Alpha Tau.

Saat sel sehat di sekitar tumor tidak dihancurkan bersama dengan kanker, sistem imun akan menyerang jenis tumor berbeda yang ada dalam tubuh. Kejadian inilah yang menyebabkan 85% pasien kanker berakhir dengan kematian.

Teknologi Alpha DaRT Tidak Memberikan Efek Samping

Terapi kanker yang sekarang diterapkan kebanyakan memanfaatkan radioterapi yang bukan hanya membunuh sel kanker, tetapi juga sel sehat – ditandai dengan kerontokan rambut, muntah, dan lain sebagainya. Efek samping ini bukan hanya membuat penderitanya hilang semangat untuk terapi, tetapi juga keluarga yang menemani dan merawat mereka.

Lain dengan teknologi Alpha DaRT – singkatan dari Diffusing Alpha-emitters Radiation Therapy – yang diketahui memiliki fungsi spesifik hanya membunuh sel kanker dan tidak memberi efek apa pun pada jaringan sehat di sekitarnya. Selain itu, penelitian juga belum menemukan efek samping sistemik di dalamnya.

Alpha DaRT dikatakan sangat efektif dan cocok untuk terapi radiasi kanker solid. Cara kerjanya adalah dengan langsung memasukkan senyawa ke dalam tumor, kemudian biji Alpha DaRT akan langsung melepaskan dosis berenergi tinggi dalam rentang ukuran beberapa milimeter – inilah alasannya mengapa teknologi ini tidak memengaruhi sel sehat.

Selain itu, terapi Alpha DaRT juga dapat diberikan hanya dengan penggunaan anestesi lokal dan dapat dikombinasi dengan kemoterapi dan imunoterapi untuk meningkatkan efektivitas.

Sudah Memasuki Tahap Penelitian Klinis

Penelitian klinis DaRT dijadwalkan untuk dilakukan pada tahun 2019 dan akan berlangsung di Perancis, Montreal, New York, Rusia, dan Israel. Penelitian lain juga akan dilakukan pada lebih dari 20 indikasi – seperti kanker pankreas, prostat, payudara, vulvar, serviks, ginjal, dan kolon – pada fasilitas kesehatan di lebih dari 25 negara.

Di bawah kepemimpinan Sofer, Alpha Tau sekarang memiliki 26 staff di Israel, termasuk professor yang menemukan teknologi ini. Pada uji klinis selanjutnya, Sofer berharap Alpha DaRT akan menerima persetujuan Uni Eropa di tahun 2020 diikuti dengan Amerika dan Jepang di tahun 2022.

“Kami sudah menyelamatkan banyak nyawa dalam penelitian,” ungkapnya. “Saya merasa sangat senang melihat pasien yang telah putus asa, kemudian 60 hari setelah mendapat terapi, mendengar bahwa mereka sudah terbebas dari kanker dan tidak ada lagi sel tumor dalam tubuhnya. Saya sudah memasuki bisnis ini selama beberapa tahun, tetapi ini adalah bagian yang paling menyenangkan untuk saya.”

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*